Analisis Spasial Lanskap Pertanian dan Keanekaragaman Hymenoptera di Daerah Aliran Sungai Cianjur

 

(Smber : https://pixfeeds.com/images/3/239995/1200-120210754-order-hymenoptera.jpg)


Hymenoptera merupakan salah satu dari empat ordo serangga yang terbesar, tiga ordo lainnya adalah Coleoptera, Diptera, dan Lepidoptera. Ada sekitar 115 000 spesies Hymenoptera yang telah diidentifikasi (LaSalle & Gauld 1993). Jumlah ini melebihi dua kali spesies vertebrata baik di darat maupun di air (Wilson 1990). Hal ini menunjukkan bahwa Hymenoptera merupakan salah satu komponen utama dari Keanekaragaman fauna khususnya serangga. Dari segi ekonomi Hymenoptera termasuk ordo penting,Semut misalnya banyak digunakan sebagai bioindikatorkesehatan ekosistem pertanian, lebah, selain menghasilkan madu, juga merupakan pollinator utama tanaman Angiospermae. Kelompok terakhir dan yang paling penting dari Hymenoptera adalah parasitoid dan predator.

 

Pada ekosistem pertanian, struktur spasial, keanekaragaman habitat, dan komposisi habitat sangat bervariasi, dari yang sederhana sampai yang kompleks. Dengan demikian, dalam skala besar (lanskap) mempengaruhi keanekaragaman hayati lokal dan fungsi-fungsi ekologi.

 

Pertanian di DAS Cianjur memiliki struktur lanskap yang beragam. Lanskap dengan struktur yang kompleks umumnya terdapat di bagian hulu dan tengah DAS Cianjur (Nyalindung dan Gasol). Lanskap yang sederhana umumnya terdapat di bagian hilir DAS Cianjur (Selajambe) dan terdiri atas pertanaman monokultur. Perubahan struktur lanskap tersebut tidak terlepas dari faktor internal dan eksternal seperti iklim, tanah, politik, sosial, ekonomi, teknologi pengendalian hama, kepadatan populasi, agama, dan struktur sosial.

 

Penelitian dilakukan di bagian hulu, tengah, dan hilir DAS Cianjur, yaitu berturut-turut di Desa Nyalindung, Gasol, dan Selajambe. Masing-masing desa mempunyai tipe lanskap atau jenis penggunaan lahan yang berbeda. Deskripsi masing-masing lanskap tersebut disajikan pada Tabel 1. Penelitian dilakukan antara bulan Januari 2003 hingga September 2004.

 

Pada lanskap Nyalindung, jenis penggunaan lahan dari total lanskap berturut-turut untuk pertanaman padi, pemukiman dan kebun campur, dan pertanaman sayuran dan palawija adalah 52.02, 27.63, dan 20.35%. Pada lanskap Gasol, jenis penggunaan lahan dari total lanskap berturut-turut untuk pertanaman padi, pemukiman dan kebun campur, pertanaman palawija, dan pertanaman sayuran adalah 80.59, 15.82, 2.85, dan 0.74%. Pada lanskap Selajambe, jenis penggunaan lahan berturut[1]turut untuk pertanaman padi, kebun campur dan pemukiman adalah 84.86 dan 15.14%.

 

Total Jumlah Individu dan Spesies Hymenoptera. Sejumlah 20 830 individu Hymenoptera dari 39 famili dan 508 spesies telah dikoleksi dari ketiga lanskap pertanian di DAS Cianjur dari Januari sampai September 2003.

Jumlah Hymenoptera yang dikumpulkan pada lanskap Nyalindung yaitu 8985 individu yang terdiri atas 35 famili dan 387 spesies, anskap Gasol 6084 individu yang terdiri atas 31 famili dan 299 spesies dan lanskap Selajambe 5761 individu yang terdiri atas 34 famili dan 324 spesies.

 

Kekayaan dan Keanekaragaman Spesies Hymenoptera. Lanskap Nyalindung yang terletak di bagian hulu DAS Cianjur yang terdiri atas pertanaman polikultur mempunyai kekayaan dan keanekaragaman spesies Hymenoptera lebih tinggi daripada lanskap Gasol dan Selajambe yang berturut-turut terletak di bagian tengah dan hilir DAS Cianjur (Gambar 4). Bell et al. (1991) mengatakan bahwa populasi dan komunitas organisme sangat dipengaruhi oleh gradien lingkungan (ketinggian tempat) dan struktur habitat. Selanjutnya Stevens (1992) menemukan bahwa kekayaan spesies beberapa organisme seperti pohon, mamalia, burung, reptil, ampibi, dan serangga ordo Ortoptera menurun sejalan dengan meningkatnya ketinggian tempat. Pada penelitian ini sebaliknya, kekayaan spesies Hymenoptera meningkat dengan ketinggian (Fitri Istika)

Komentar